Tampilkan postingan dengan label Pertambangan. Tampilkan semua postingan

Mangan

Mangan
Dalam tabel periodik unsur kimia, mangan memiliki lambang Mn dengan nomor atom 25. Unsur kimia adalah zat kimia yang tidak dapat diubah menjadi zat kimia lain dengan cara biasa dan tidak dapat dipisahkan menjadi zat yang lebih kecil. Unsur-unsur kimia ditampilkan dalam bentuk tabel periodik unsur kimia. Nomor atom adalah angka yang menunjukkan jumlah proton dalam inti atom.
Mangan adalah logam yang penting dalam penggunaan dengan campuran logam-logam industri, terutama untuk baja anti karat. Mangan fosfat sering digunakan sebagai perawatan dalam pencegahan karat dan kerusakan besi. Mangan menpunyai banyak warna, tergantung dalam keadaan oksida mereka, dan sering digunakan sebagai zat warna dalam industri. Oksida-oksida dari sodium, kalium, dan barium adalah oksidasi-oksidasi untuk bahan bakar yang,sangat kuat.
Logam mangan pertama kali dikenali oleh Scheele, Bergman, dan ahli lainnya sebagai unsur dan diisolasi oleh Gahn pada tahun 1774, dengan mereduksi mangan dioksida dengan karbon. Batuan induknya bisa berupa batu gamping atau dolomit dengan kadar Al rendah, tetapi mengandun oksida Mn. Dapat pula berupa batuan beku atau sekis krisalin yan mengandun silikat Mn a merupakan endapan hidrothermal dan metasomatik kontak yang mengalami replecement, atau dapat juga sebagai segregasi dalam batuan ultrabasa.

Keterbentukan dan Asosiasi Mineral Mangan

Mangan merupakan salah satu unsur yang paling banyak terdapat di kerak bumi. Bijih mangan yang utama berasal dari pirolusit (MnO2) dan psilomelan (Ba,H2O)2Mn5O10. Mangan yang mengandung oksida lainnya namun berperan bukan sebagai mineral utama dalam deposit bijih mangan adalah bauksit, manganit, hausmanit, dan lithiofori. Sumber mangan yang mengandung karbonat adalah rhodoksit, sedangkan sumber mangan yang mengandung silika adalah rhodonit. Deposit mangan dapat dibagi menjadi beberapa tipe, misalnya deposit hidrotermal, deposit sedimenter, deposit yang berasosiasi dengan aliran lava bawah laut, deposit motamorfosis, deposit laterit, dan akumulasi residu.

Karakteristik Mangan

Mangan adalah logam berwarna putih keabu-abuan seperti besi dengan kilap metalik sampai sub metalik, memiliki tingkat kekerasan 2 - 6, massa jenis 7.21 g/cm3 pada suhu ruang , massif, reniform, botriodal, stalaktit, serta kadang kadang berstruktur fibrous dan radial.ogam mangan dan ion-ion biasanya mempunyai daya magnet yang kuat. Dalam keadaan murni, logam mangan bersifat keras tapi rapuh (mudah patah).
  • Jari-jari atom 1.35 À
  • Volume atom 7.39 cm3/mol
  • Massa atom 54.938
  • Jari-jari kovalensi 1.17 À
  • struktur kristal Cubic body center
  • Massa jenis 7.44 g/cm3
  • Konduktivitas listrik 0.5x106 Ohm-1cm-1
  • Konduksivitas kalor 7.82 Wm-1K-1
  • Konfigurasi elektron [Ar] 3d5 4s2
  • Entalapi pembentukan 14.64 kJ/mol
  • Entalapi penguapan 219.74 kJ/mol
  • Elektronegatifitas (skala Pauling) 1.55
  • Kapasitas kalor 0.48 Jg-1K-1
  • Titik lebur 1518K
  • Titik didih 2235 K
  • Potensial ionisasi 7.435 V
  • Bilangan oksidasi 7, 6, 4, 3, 2
Mangan mudah teroksidasi oleh udara, bereaksi lambat dengan air dan membentuk berbagai macam senyawa dengan tingkat oksidasi yang paling bervariasi. Mangan sangat reaktif secara kimiawi, dan terurai dengan air dingin perlahan-lahan. Mangan digunakan untuk membentuk banyak alloy yang penting. Dalam baja, mangan meningkatkan kualitas tempaan baik dari segi kekuatan, kekerasan dan kemampuan pengerasan. Dengan alumunium dan bismut khususnya dengan sejumlah kecil tembaga, membentuk alloy yang bersifat ferromagnetik. Logam mangan bersifat ferromagnetik setelah diberi perlakuan. Logam murninya terdapat sebagai bentuk allotropik dengan empat jenis. Salah satunya, jenis alfa, stabil pada suhu luar biasa tinggi sedangkan mangan jenis gamma, yang berubah menjadi jenis alfa pada suhu tinggi, dikatan fleksibel, mudah dipotong dan ditempa.

Bentonit

A. Pengertian dan Klasifikasi

Mineral bentonit, Bentonit, Pertambangan Tambang
Bentonit
Mineral atau suatu bahan galian yang terdapat pada kulit bumi, pada umumnya terbentuk di alam secara bersamaan dengan batuan induknya serta juga berasosiasi dengan mineral-mineral lain, sehingga membuat mineral-mineral tersebut tidak dapat langsung dipakai dalam industri. Untuk itu diperlukan suatu proses untuk pemisahan mineral-mineral yang diinginkan (mineral berharga) yang bernilai ekonomi dari mineral lainnya agar kualitas mineral tersebut dapat ditingkatkan dan memenuhi persyaratan sebagai bahan baku industri. Dan pengolahan bahan galian merupakan salah satu cara atau metoda yang dipakai untuk proses pemisahan mineral-mineral ini.
Tetapi dalam hal ini, bahan galian juga dapat digolongkan menjadi beberapa bagian, menurut pemanfaatannya bahan galian dapat digolongkan menjadi beberapa bagian, yaitu:
  • Bahan galian logam yaitu bahan galian yang bila diolah dengan teknologi tertentu akan dapat diambil dan dimanfaatkan logamnya, seperti timah, besi, tembaga, nikel, emas, perak, seng dll.
  • Bahan galian energi, yaitu bahan galian yang dimanfaatkan untuk energi, misalnya batubara dan minyak bumi.
  • Bahan galian industri, yaitu bahan galian yang dimanfaatkan untuk industri. Seperti asbes, aspal, bentonit, batugamping, dolomit, diatome, gipsum, halite, talk, kaolin, zeolit, tras dll
Bentonit adalah istilah pada lempung yang mengandung monmorillonit dalam dunia perdagangan dan termasuk kelompok dioktohedral. Penamaan jenis lempung tergantung dari penemu atau peneliti, misal ahli geologi, mineralogi, mineral industri dan lain-lain.
Bentonite terbentuk dari abu vulkanik, Unsur (Na,Ca) sebanyak 0.33% (Al,Mg)2Si4O10(OH)2•(H2O). Sifat materialnya tidak menyerap air. Banyak digunakan sebagai bahan kosmetik, keramik, semen, adhesives, cat dan lain sebagainya. Selain di Indonesia banyak terdapat di Amerika Utara, Australia, Afrika dan banyak negara lainya. Bentonite dipergunakan juga untuk penahan longsor tanah pada saat melakukan pengeboran pada pekerjaan borepile, masukan bentonite pada lubang yang di bor kemudian tunggu berapa saat dan lakukan kembali supaya bentonitenya bisa mempekeras permukaan dinding tanah yang di bor. Sedangkan berdasarkan tipenya, bentonit dibagi menjadi:

Tipe Wyoming

Tipe Wyoming (Na-bentonit-Swelling bentonite) pada bentonit memiliki daya mengembang hingga delapan kali apabila dicelupkan ke dalam air, dan tetap terdispersi beberapa waktu di dalam air. Dalam keadaan kering berwarna putih atau cream, pada keadaan basah dan terkena sinar matahari akan berwarna mengkilap. Perbandingan soda dan kapur tinggi, suspensi koloidal mempunyai pH: 8,5-9,8, tidak dapat diaktifkan, posisi pertukaran diduduki oleh ion-ion sodium (Na+).

Mg, (Ca-bentonit – non swelling bentonite)

Endapan bentonit Indonesia tersebar di P. Jawa, P. Sumatera, sebagian Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi, dengan cadangan diperkirakan lebih dari 380 juta ton, serta pada umumnya terdiri dari jenis kalsium (Ca-bentonit). Beberapa lokasi yang sudah dan sedang dieksploitasi, yaitu di Tasikmalaya, Leuwiliang, Nanggulan, dan lain-lain. Indikasi endapan Na-bentonit terdapat di Pangkalan Brandan; Sorolangun-Bangko; Boyolali.
Na-bentonit dimanfaatkan sebagai bahan perekat, pengisi (filler), lumpur bor, sesuai sifatnya mampu membentuk suspensi kental setelah bercampur dengan air. Sedangkan Ca-bentonit banyak dipakai sebagai bahan penyerap. Untuk lumpur pemboran, bentonit bersaing dengan jenis lempung lain, yaitu atapulgit, sepiolit dan lempung lain yang telah diaktifkan. Tipe bentonit ini kurang mengembang apabila dicelupkan ke dalam air, dan tetap terdispersi di dalam air, tetapi secara alami atau setelah diaktifkan mempunyai sifat menghisap yang baik. Perbandingan kandungan Na dan Ca rendah, suspensi koloidal memiliki pH: 4-7. Posisi pertukaran ion lebih banyak diduduki oleh ion-ion kalsium dan magnesium. Dalam keadaan kering bersifat rapid slaking, berwarna abu-abu, biru, kuning, merah dan coklat. Penggunaan bentonit dalam proses pemurnian minyak goreng perlu aktivasi terlebih dahulu.
Dengan penambahan zat kimia pada kondisi tertentu, Ca-bentonit dapat dimanfaatkan sebagai bahan lumpur bor setelah melalui pertukaran ion, sehingga terjadi perubahan menjadi Na-bentonit dan diharapkan terjadi.

B. Penemuan Bentonit

Amerika awal ditemukan bentonit penting untuk kehidupan mereka. Perintis ditemukan dibasahi bentonit menjadi pelumas yang ideal untuk roda gerobak melengking. Campuran tersebut juga digunakan sebagai sealant untuk atap log kabin. Orang-orang Indian menemukan bentonit berguna sebagai sabun.
Sejumlah kecil Wyoming bentonit pertama kali secara komersial ditambang dan dikembangkan di daerah River Rock selama 1880-an. Lebih baru, deposito lebih besar ditemukan di bagian lain dari Wyoming selama tahun 1920 dan pabrik pengolahan pertama di Wyoming dibangun selama periode ini. Sejak saat itu banyak pabrik pengolahan lainnya telah dibangun untuk tujuan pengolahan bentonit natrium Wyoming. Industri Bentonit Wyoming menghasilkan lebih dari 4,0 juta ton bentonit pada tahun 1999, dengan 644 karyawan tambang dan pabrik, dan 240 karyawan kontraktor.
Wyoming bentonit dasarnya terdiri dari lempung montmorillonit, juga dikenal sebagai silikat hidrat alumina. Dalam istilah sederhana lagi, struktur bentonit jauh seperti setumpuk kartu. Ketika ditempatkan dalam air, kartu ini atau trombosit tanah liat bergeser terpisah. Bentonit menarik air ke wajah negatif dan magnetis memegang air di tempat. karena ini karakteristik unik, Wyoming bentonit mampu menyerap 7 sampai 10 kali beratnya sendiri dalam air, dan  mengembang hingga 18 kali volume kering. Eksplorasi untuk tempat tidur bentonit baru biasanya dilakukan dengan pengeboran auger bit. Setelah batang bor auger mencapai bentonit lembut itu menggali sangat cepat,  itu menunjukkan kepada driller bentonit telah ditemukan. Penerbangan auger kemudian ditarik dan "lengket" bentonit adalah sampel dari penerbangan untuk analisis kualitas. Bentonit ditambang oleh permukaan metode "tambang terbuka". Berbagai jenis alat berat termasuk dozer banteng dan karet-lelah pencakar digunakan untuk menghilangkan batu serpih atasnya bentonit tersebut

Peta Topografi

1. Pengertian Peta Topografi

Peta topografi adalah peta yang menggambarkan tinggi rendahnya permukaan bumi. Peta topografi merupakan jenis peta yang ditandai dengan skala besar dan detail, biasanya menggunakan garis kontur dalam pemetaan modern. Sebuah peta topografi biasanya terdiri dari dua atau lebih peta yang tergabung untuk membentuk keseluruhan peta. Sebuah garis kontur merupakan kombinasi dari dua segmen garis yang berhubungan namun tidak berpotongan, ini merupakan titik elevasi pada peta topografi.

2. Penampang Topografi

Untuk membangun sebuah profil topografi, pertama-tama Anda harus memutuskan/menentukan pada baris yang menarik bagi Anda. Ini bisa menjadi daerah di mana Anda ingin pergi untuk berjalan kaki dan ingin tahu kecuramannya/ketingiannya untuk memprediksi hal itu, sebuah garis yang menunjukkan bantuan maksimum (lega adalah perbedaan elevasi antara titik tertinggi dan terendah) di daerah peta, atau daerah lain di mana Anda tertarik. Untuk mengetahui kenampakan morfologi dan kenampakan struktur geologi pada suatu daerah, maka diperlukan suatu penampang tegak atau profil (section). Penampang tegak atau sayatan tegak adalah gambaran yang memperlihatkan profil atau bentuk dari permukaan bumi. Profil ini diperoleh dari line of section yang telah ditentukan lebih dulu pada peta topografi, misalnya A – A' atau B – B'.

A. Skala pada Profil

  1. Skala normal (Nature scale) yaitu skala vertikal diperbesar sama dengan skala horisontal.
  2. Skala perbesaran (Exaggerated) yaitu skala vertikal diperbesar lebih besar daripada skala horisontal.

B. Persyaratan Pembuatan Profil

  1. Profil line/topographic line yaitu garis potong antara permukaan bumi dengan bidang vertikal.
  2. Base line letaknya mendatar dipilih pada jarak tertentu di daerah profil line, dimana tinggi base line tergantung kebutuhan. Seingkali dipilih 0 meter sesuai ketinggian permukaan air laut. Pada base line terletak jarak mendatar sesuai dengan jarak horisontal.
  3. End line/garis samping dikiri dan kanan tegak lurus base line. Disini tertera angka ketinggian sesuai interval kontur.

C. Kegunaan Peta Topografi dalam Geologi

Secara khusus peta topografi digunakan untuk merekam segala data geologi, misalnya :
  1. Penyebaran batuan
  2. Struktur geologi
  3. Morfologi suatu daerah dan sebagainya

Alat-Alat Survey Geolistrik

1. Geolistrik Single Channel Twin Probe (G-SOUND)

G-Sound
G-Sound
G-Sound dibuat untuk menjawab kebutuhan akan alat ukur resistivitas (geolistrik) yang murah dan handal. Instrumen geolistrik ini di desain untuk pengukuran bergerak (portable) dengan kedalaman penetrasi arus 100-150 meter. Pada G-Sound tidak diperlukan adjusting SP dengan rumit, melalui tombol adjusting maka nilai SP terkoreksi secara otomatis. Hal ini sangan membantu untuk para operator alat yang belum berpengalaman. Dengan berat sekitar 1 kg menjadikan pekerjaan akuisisi data resistivity profiling ataupun sounding bertambah ringan. Teknologi Curren Source (pembangkit arus) yang terdapat pada G-Sound menjadikannya handal, benrpengaman sistem anti short circuit dimana kondisi hubungan singkat sering terjadi pada saat spasi AB (arus) terlalu dekat atau pada lapisan berimpedansi rendah. Dengan impedansi multimeter pada instrumen sebesar 10 MOmhs dan resolusi 12 bit menjadikan pengukuran nilai tegangan dan arus sangat presisi dan akurat.
Teknologi yang diaplikasikan pada setiap instrumen geolistrik dengan sistem current sources dan anti short circuit dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengukuran dalam skala laboratorium misalkan mengukur resistansi media tanah (soil box), batuan (sampel core) dan lumpur. Dengan demikian G-Sound mendukung semua keperluan pengukuran baik di lapangan maupun di laboratorium.

2. Geolistrik Multichannel

Geolistrik, Geologi
Geolistrik Multichannel
S-Field adalah alat ukur resistivity dengan sentuhan teknologi terdepan. Instrumen didesain dengan sistem pengukuran elektroda banyak channel (multichannel), full automatis dengan sampling arus injeksi dilakukan setiap 2-5 detik. Alat ini memberikan hasil dengan tingkat akurasi tinggi dan bising yang rendah. Dengan hadirnya alat ini pengukuran resistivitas bisa dilakukan secara simultan sampai 16 elektroda, dan dapat pula di-upgrade menjadi 32, 64, 128 elekroda atau lebih (max 1000 channel). Dengan demikian akan menghemat waktu dan tenaga dalam pengukuran resistivitas bawah permukaan. Melalui instrumen resistivity multichannel pengukuran data resistivitas 2D dan 3D menjadi lebih efisien. Teknologi Curent Source (pembangkit arus) yang terdapat pada S-Field menjadikannya handal, berpengaman sistem anti short circuit, sehingga aman digunakan pada saat jarak elektroda arus terlalu rapat atau impedansi sangat rendah. Output format file hasil pengukuran 2D sesuai (compatible) dengan format software Res2Dinv.

3. Induced Polarization (IPMGEO)

IPMGEO, Geologi, Geolistrik
IPMGEO
Induced polarization atau polarisasi terimbas merupakan salah satu metode geofisika yang mendeteksi terjadinya polarisasi listrik pada permukaan mineral logam. Polarisasi ini terjadi akibat adanya arus induktif yang menyebabkan reaksi transfer antara ion elektrolit dan mineral logam. IPMGEO dirancang untuk mengukur parameter polarisasi terimbas melalui nilai charge ability. Nilai ini merupakan perbandingan antara peluruhan potensial sekunder terhadap waktu. IPMGEO bekerja dalam domain waktu, dimana data akuisisi direkam melalui A/D card dengan akurasi 10 bit. Prinsip pengukuran IP memiliki susunan konfigurasi yang serupa dengan geolistrik. IPMGEO telah dikombinasikan sedemikian rupa sehingga akuisisi data IP dapat dilakukan secara simultan dengan geolistrik. Dengan demikian dapat dikarakteristik material yang memiliki respon resistivitas yang sama tetapi mempunyai karakteristik IP yang berbeda. IPMGEO dapat dikembangkan menjadi instrumen pengukuran multichannel 16, 32, 48 channel atau lebih (sesuai seri) dengan maksimum jumlah channel 1000 buah.

4. Sonic Wave Analyzer (SOWAN)

SOWAN, Geologi, Geolistrik
SOWAN
SOWAN adalah instrumen ukur kecepatan gelombang ultrasonik pada sampel batuan. Melalui alat ini dapat terbaca waktu tempuh gelombang P dan S secara akurat, karena pulsa tegangan bernilai 350 V dan lebar pulsa 1 ns. Instrumen ukur ini dapat digunakan untuk analisa kekuatan batuan, uji tak rusak (NDT) melalui analisa citra ultrasonik tomografi ataupun analisa fisika batuan (rock physics). Dari citra tomografi (image slicing) dapat dianalisa keberadaan void, honeycomb, aliran fluida, dsb. Instrumen ini juga bermanfaat untuk menganalisa kekuatan bahan, beton misalnya, melalui penurunan parameter elastik dinamik. Dengan input ukuran panjang (dimensi), densitas dan waktu tempuh gelombang, dapat dihitung poisson's rasio dinamik, shear modulus, young modulus, dsb. SOWAN sangat bermanfaat bagi teknik sipil, mekanika batuan, dan juga ahli geofisika untuk analisa fisika batuan (rock physic). Khusus untuk analisa fisika batuan, instrumen ini dapat dimodifikasi untuk simulasi pengukuran kecepatan gelombang sonik insitu melalui panambahan tabung tekanan tinggi (tertekan triaxial). Melalui studi ini dapat ditentukan fisibilitas seismik 4D dan prosesing seismik 3D.

5. Ultra Low Seismic Accelerometer (ULSA)

ULSA, Geologi, Geolistrik
ULSA
Akselerometer ULSA adalah sensor gelombang seismik/akselerometer dengan respon frekuensi rendah, sensitivitas output tinggi dan mempunyai noise sangat rendah. Sehingga sensor ini bermanfaat dalam pengukuran sinyal dengan karakteristik amplitudo dan frekuensi kecil yang biasanya ditemui dalam monitoring struktur dan vibrasi. Demikian juga dengan kajian gempa bumi misalnya, untuk monitoring sinyalnya harus menggunakan sensor dengan frekuensi dan noise rendah.

6. Pulse Echo/Digital Time Delay Analyzer (DITDA)

DITDA, Pulse Echo, Geologi, Geolistrik
DITDA
DITDA adalah instrumen yang didesain untuk mengukur waktu tempuh gelombang sonik-P saat merambat dari sensor transmitter menuju receiver. Pada dasarnya DITDA memiliki kesamaan fungsi dan cara kerja dengan SOWAN. Waktu tempuh gelombang sonik sudah terdigitasi pada LCD dan tanpa memerlukan osiloskop untuk menampilkan hasil.

7. Seismic Instrument (GEO-SAM)

Geo-Sam, Geologi, Geolistrik
Geo-Sam
GEO-SAM adalah alat ukur gelombang seismik permukaan yg di desain untuk keperluan geoteknik dan eksplorasi dangkal. Alat seismik ini didesain dengan akurasi 16-bits, 12 channels maupun 24 channels yang beroperasi pada sistem operasi Windows. Sumber gelombang yang digunakan pada GEO-SAM bisa berupa dinamit, hammer ataupun weight-drop dengan penerima geophone, beroperasi pada lingkungan darat maupun rawa. Salah satu kelebihan yang dikembangkan pada sistem akuisisi adalah non-take out cable. Sehingga, pengguna bebas menentukan lebar spasi antar geophone.

Skala Wentworth

Skala Wentworth digunakan dalam pengklasifikasi batuan sedimen khususnya batuan sedimen klasik berdasarkan ukuran butir-butir penyusun batuan.

Nama Butir
Ukuran Butir
Sediment Rock Tipe
Bongkah Boulder > 256 Gravel Rudites (Konglomerat, Breccia)
Berangkal Couble 64 - 256
Kerakal Pebble 4 - 64
Kerikil Granule 2 - 4
Pasir sangat kasar Very Coarse Sand 1 - 2 Sand Sandstones
Pasir kasar Coarse Sand 1/2 - 1
Pasir sedang Medium Sand 1/4 - 1/2
Pasir halus Fine Sand 1/8 - 1/4
Pasir sangat halus Very Fine Sand 1/16 - 1/8
Lanau Silt 1/256 - 1/16 Mud Lutites (Mudrocks)
Lempung Clay < 1/256

Tahapan Eksplorasi Penambangan

PENGERTIAN EKSPLORASI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Eksplorasi adalah penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak tentang keadaan, terutama sumber-sumber alam yang terdapat ditempat itu.

Menurut Wikipedia

Eksplorasi adalah tidakan atau mencari atau melakukan perjalanan dengan tujuan menemukan sesuatu,.

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)

Eksplorasi adalah kegiatan penyelidikan geologi yang dilakukan untuk mengidentifikasi, menentukan lokasi, ukuran, bentuk, letak, sebaran, kuantitas dan kualitas suatu endapan bahan galian untuk kemudian dapat dilakukan analisis/kajian kemungkinan dilakukannya penambangan.

TUJUAN EKSPLORASI

Tujuan dilakukannya eksplorasi adalah untuk mengetahui sumber daya cebakan mineral secara rinci, yaitu untuk mengetahui, menemukan, mengidentifikasi dan menentukan gambaran geologi dan mineral berdasarkan ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitas suatu mineral untuk kemudian dapat dilakukan pengembangan secara ekonomis.

TAHAPAN EKSPLORASI

Tahapan eksplorasi dilakukan melalui

1. Tahap Eksplorasi Pendahuluan

  • Survey Tinjau
Yaitu kegiatan eksplorasi awal terdiri dari pemetaan geologi regional, pemotretan udara, citra satelit dan metode survey tidak langsung lainnya untuk mengidentifikasi daerah-daerah anomial yang prospektif untuk diselidiki lebih lanjut.
  • Prospeksi Umum
Tahapan ini dimaksudkan untuk mempersempit daerah sebaran endapan mineral yang potensional. Kegiatan ini dilakukan dengan cara pemetaan geologi dan pengambilan contoh awal, misalnya puritan dan pemboran yang terbatas, studi geokimia dan geofisika untuk mengidentifikasi suatu sumber daya mineral tereka yang perkiraan dan kualitasnya dihitung berdasarkan hasil analisis kegiatan diatas.

2. Tahap Eksplorasi Detail

Setelah melakukan tahap eksplorasi pendahuluan diketahui bahwa cadangan yang ada mempunyai prospek yang baik, maka diteruskan dengan melakukan tahap eksplorasi detail (White, 1997). Kegiatan utama dalam tahap ini adalah sampling dengan jarak yang lebih dekat, yaitu dengan memperbanyak sumur uji atau lubang bor untuk mendapatkan data yang lebih teliti mengenai penyebaran dan volume cadangan, penyebaran kadar/kualitas, secara mendatar maupun tegak. Dari sampling yang rapat tersebut dihasilkan cadangan terhitung dengan klasifikasi terukur, dengan kesalahan yang kecil (<20%), sehingga perencanaan tambang yang dibuat menjadi lebih teliti dan resiko dapat dihindari.

3. Studi Kelayakan

Pada tahap ini dibuat rencana produksi, rencana kemajuan tambang, metode penambangan, perencanaan peralatan dan investasi tambang. Dengan melakukan analisis ekonomi berdasarkan model, biaya produksi penjualan dan pemasaran. Maka dapat diketahui cadangan bahan galian itu dapat ditambang dengan menghasilkan keuntungan atau tidak.

4. Tahapan Evaluasi dan Pra Produksi

Tahapan ini merupakan tahap terakhir sebelum dilakukan penambangan suatu daerah. Tahap ini berupa evaluasi keseluruhan dari kegiatan produksi. Selain itu tahap ini juga merancang kegiatan penunjang selama pertambangan seperti pembuatan jala, pembuatan kantor dan mess pekerja, pembuatan pelabuhan dan pabrik metalurgi.


Daftar Pustaka

Boss Tambang
Himatto
Sipush
Suara Geologi

Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan UNISBA

Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan UNISBA

Lambang dan Arti HMTP - UNISBA

  1. Palu dan belicong artinya disiplin ilmu pertambangan
  2. Kerang putih artinya bahan galian berupa batu gamping dan berwarna putih sebagai niat tulus dan luhur membangun pertambangan indonesia
  3. Ka'bah (huruf"i") artinya Islam sebagai azas nilai HMTP
  4. Lima garis diatas kerang artinya Rukun Islam yang mengilhami langkah HMTP
  5. Tujuh buah lekukan kerang HMTP bagian dari Fakultas Teknik pada tahap ke-7 Fakultas Teknik didirikan di UNISBA
  6. Kotak hitam dibelakang kerang artinya tangga terakhir pencapaian puncak kemenangan
  7. Warna kuning adalah warna kebanggaan dan warna pemersatu mahasiswa teknik pertambangan UNISBA
  8. Lingkaran hitam artinya lambang persatuan, kesatuan dan persaudaraan mahasiswa teknik pertambangan

Sejarah Teknik Pertambangan UNISBA

Jurusan / Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung (UNISBA) didirikan pada bulan Januari tahun 1979 oleh Yayasan Pendidikan Islam (YPI), dengan nama Jurusan Tambang Rakyat yang berada dibawah naungan Fakultas teknologi Pembangunan Masyarakat (FTPM) Unisba.
Dengan keluarnya SK Rektor Unisba No. 173/D-1/1985, Jurusan Tambang Rakyat berubah nama menjadi Jurusan Tambang. Selanjutnya pada tahun 1985 mendapatkan status terdaftar sesuai Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Repiklik Indonesia No. 022/01/1985, tanggal 07 Mei 1985, tentang Pemberian Status Terdaftar kepada Jurusan Tambang, Fakultas Teknik dalam lingkungan Universitas Islam Bandung di Bandung, yang kemudian namanya menjadi Teknik Pertambangan. Pada tahun 1992 Jurusan / program Studi Teknik Pertambangan mendapat status diakui, dengan SK Mendikbud RI Nomor: 015/0/1992, tanggal 02 Januari 1992 tentang Pemberian Status Diakui kepada Fakultas / Jurusan / Program Studi di Lingkungan Universitas Islam Bandung di Bandung.
Dalam perkembangan berikutnya, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Dirjen Dikti, Departemen P & K melalui SK Nomor: 002/BAN-PT/Ak-II/XI/1998, tanggal 22 Desember 1998 tentang Hasil dan Peringkat Akreditasi Program Studi untuk Program Sarjana di Perguruan Tinggi, memberikan peringkat akreditasi "B" pada Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas teknik, Universitas Islam Bandung dengan Sertifikat Akreditasi BAN-PT Nomor: 01693/Ak-II.1/UIBXAP/XII/1998.
Spesialisasi: Membentuk sarjana teknik pertambangan yang profesional dan berakhlak mulia.

Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan UNISBA

Visi

Kemandirian dan profesionalisme HMTP UNISBA serta dapat diakui didunia pertambangan.

Misi

  1. Memberikan pelayanan secara intelektual kepada seluruh keanggotaan HMTP UNISBA.
  2. Sebahai suatu himpunan yang mampu memberikan terobosan-terobosan positif untuk dunia pertambangan Indonesia

Tujuan

HMTP bertujuan menampung, menyalurkan, menyuarakan dan merealisasikan aspirasi Mahasiswa Teknik Pertambangan UNISBA.

Azas

HMTP berazaskan islam dan bersumberkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasul.

Sifat

  1. HMTP adalah organisasi dari, oleh dan untuk Mahasiswa Teknik Pertambangan serta bersifat religius dan ilmiah.
  2. Egaliter, artinya setiap mahasiswa memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam organisasi.
  3. Demokratis, artinya segala keputusan organisasi didasarkan kepada aspirasi Mahasiswa Teknik Pertambangan UNISBA dan dilakukan dengan prinsip-prinsip keterwakilan demokrasi secara universal.

Sasaran

Seluruh mahasiswa teknik pertambangan unisba, jurusan teknik pertambangan unisba dan alumni teknik pertambangan unisba.

Sejarah pembentukan himpunan

Ketua HMTP dipilih secara langsung melalui pemilu umum raya Mahasiswa Teknik Pertambangan UNISBA, dan dipilih hanya untuk satu periode yang kemudian dilantik oleh ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM – FT).
Ketua HMTP mempunyai hak penuh dalam memilih dan menentukan susunan kepengurusan HMTP
Anggota HMTP adalah Mahasiswa Teknik Pertambangan UNISBA yang telah sah memiliki jaket kuning dengan mengikuti Bimbingan Studi Mahasiswa Teknik Pertambangan UNISBA.

Batuan

Batuan adalah agregat padat dari mineral, atau kumpulan yang terbentuk secara alami yang tersusun oleh butiran mineral, gelas, material organik yang terubah dam kombinasi semua komponen tersebut.

Macam-macam Batuan

Batuan Beku

Batuan beku atau igneus (dari bahasa latin: ignis "api") adalah batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi baik dibawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun diatas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik).
Berdasarkan tempat pembekuannya, batuan beku dibagi menjadi dua jenis yaitu ekstrusif dan intrusif

Batuan Beku Ekstrusif

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung di permukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki berbagai struktur yang memberi petunjuk mengenai proses yang terjadi pada saat pembekuan lava tersebut. Struktur ini diantaranya:
  1. Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat seragam
  2. Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan
  3. Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal seperti batang pensil
  4. Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantalan yang bergumpal-gumpal. Hal ini diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air
  5. Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku. Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan
  6. Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti kalsit, kuarsa atau zeolit
  7. Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah tertentu akibat aliran

Batuan Beku Intrusif

Batuan beku intrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dibawah permukaan bumi. Jenis batuan ini dibagi lagi menjadi 2 bagian, konkordan dan diskordan
  1. Konkordan yaitu batuan beku intrusif yang terbentuk sejajar dengan lapisan disekitarnya
  2. Diskordan yaitu batuan beku intrusif yang terbentuk memotong dengan lapisan disekitarnya
Jika dalam tekstur, batuan beku dapat dibedakan menjadi:

Kristalisasi

  1. Holokristalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya disusun oleh kristal
  2. Hipokristalin, yaitu batuan beku yang tersusun oleh kristal dan gelas
  3. Holohyalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh gelas

Ukuran Butir

  1. Phaneritic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh mineral-mineral berukuran besar
  2. Aphanitic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh mineral-mineral berukuran halus

Bentuk Kristal

  1. Euhedral, yaitu bentuk kristal yang sempurna
  2. Subhedral, yaitu bentuk kristal yang kurang sempurna
  3. Anhedral, yaitu bentuk kristal yang tidak sempurna

Batuan Sedimen

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk karena proses pengendapan (sedimentasi) dan pembatuan atau pemampatan endapan lepas.
Dari jenisnya, batuan sedimen dibagi menjadi 3 bagian
  1. Mekanis yaitu batuan yang terbentuk karena proses pengendapan dan diagenesa hasil pelapukan yang biasanya berupa keratan (fragmen) batuan dan/atau mineral
  2. Kimia yaitu batuan yang terjadi karena proses penguapan, konsentrasi dan pengendapan larutan yang mengandung zat-zat kimia hasil pelapukan
  3. Organik yaitu batuan yang terbentuk karena kegiatan/proses biokimia dan biomekanik seperti karang (hasil pembuatan rumah) oleh binatang laut dan terjadinya penumpukan cangkang (koral, foraminifera), penumpukan tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.
Batuan sedimen juga dapat diklasifikasikan dari berbagai macam hal seperti batuan beku, diantaranya:

Tekstur Batuan

Ukuran Butiran atau Fragmen
Bongkah (Boulder) 256
Berangkal (Cobble) 64 - 256
Kerakal (Pebble) 4 - 64
Kerikil (Granule, Gravel) 2 - 4
Pasir (Sand) 1/16 - 2
Lanau (Silt) 1/256 - 1/16
Lempung (Clay) 1/256
Bentuk Butiran
Membulat Gravel
Menyudut Puing (Rubble)

Batuan Metamorf


Batuan metamorf adalah batuan yang berubah susunan kimia, mineral atau struktur/teksturnya sebagai akibat adanya kegiatan (peningkatan) tekanan dan/atau bahang/suhu (heat).
Ada 3 proses pembentukan batuan metamorf, yaitu:
  1. Batuan yang diterobos oleh magma sehingga batuan itu terpengaruh dan terubah susunan mineralnya sebagai akibat suhu dari magma. Perubahan ini biasanya pada kedalaman yang tidak begitu besar dan dalam wilayah yang tidak begitu luas. Tingkat perubahan makin melemah dari sumber panasnya. Batuan metamorf yang terbentuk biasanya terbatas disekitar sentuhnya.
  2. Batuan yang mendapat tekanan dan pergeseran (daerah sesar). Batuan ini akan mengalami perubahan bentuk atau strukturnya, biasanya terjadi pada daerah yang nisbi sangat lokal.
  3. Batuan yang makin terbenam atau terkubur (burried) karena penimbunan batuan diatasnya terus menerus. Proses ini biasanya terjadi di wilayah geosinklin dalam kedalaman yang besar dan suhu tinggi, batuan metamorf yang terbentuk biasanya sangat luas

Jenis-jenis Batuan Metamorf

Batuan Metamorf Sentuh

Bila ada kegiatan bahang sedangkan tekanan relatif kecil (tidak terpengaruh), maka akan terjadi perubahan susunan mineral dari batuan. Metamorfosis termal atau sentuh bertalian dengan penerobosan magma (batuan beku), wilayah metamorfosis termal terdapat disekitar sentuh antara batuan beku dan batuan yang diterobosnya.

Batuan Metamorf Mekanis

Bila batuan mengalami tekanan yang tinggi sementara temperatur relatif rendah maka akan terbentuk batuan metamorf dinamo atau mekanis. Metamorfosis ini berlangsung di daerah sesar atau batuan yang mengalami tekanan dari dua arah yang berlawanan, wilayah cakupannya terbatas di daerah itu.

Batuan Metamorf Regional

Bila batuan mengalami tekanan sekaligus bahang yang tinggi akan mengalami metamorfosis regional. Metamorfosis berlangsung disuatu wilayah dimana terjadi proses pengendapan yang makin menebal dan terkubur di kedalaman yang besar. Wilayah ini biasanya terdapat pada daerah struktur tektonika tertentu yaitu geosinklin, dimana terjadi penurunan kerak bumi yang terus menerus sehingga memungkinkan terjadinya penimbunan batuan yang sangat tebal. Pada kedalaman yang sangat besar, tekanan dan suhu menjadi sangat besar sehingga dapat merubah baik tekstur maupun susunan mineral batuan asal.

Struktur Batuan Metamorf

  1. Tidak berarah
  2. Berarah

Susunan MIneral Batuan Metamorf

  1. Mineral utama (Chief minerals):Kuarsa, feldspar, kalsit, dolomit, talk, muskovit, serisit, klorit, hornblenda, serpentin, biotit, piroksen, actinolit, epidot, olivin, magnetit
  2. Mineral ikutan yang khas (Characterizing accessory minerals): Muskovit, silimanit, kianit, yakut, flogopit, tremolit, wolastonit, albit, andalusit, diopsid, dan sebagainya

Mineral Pembentuk Batuan

1. Mineral pada Batuan Beku

A. Mineral Utama

Pada dasarnya mineral pembentuk batuan beku sebagian besar (90%) mengandung oksigen, silikon, aluminium, besi, kalsium, sodium, potasium dan magnesium. Atau bisa juga dikelompokkan berdasarkan warna mineralnya. Mineral utama dapat dilihat di Deret Bowen.
  1. Kelompok mineral gelap (Mafic) mengandung banyak unsur magnesium (Mg) dan besi (Fe)
  2. Kelompok mineral terang (Felsic) banyak mengandung unsur aluminium (Al), kalsium (Ca), Natrium (Na), kalium (K) dan silium (Si)
Sebelah kiri mewakili mineral gelap dan sebelah kanan mewakili mineral terang.
Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma yang menjadi penentu dalam penamaan batuan.
Deret Bowen secara umum menggambarkan urutan kristalisasi mineral sesuai dengan penurunan suhu (bagian kiri) dan perbedaan kandungan magma (bagian kanan), dengan asumsi bahwa semua magma berasal dari magma induk yang bersifat basa.
Bagian ini dibagi menjadi 2 cabang, kontinyu dan diskontinyu
  • Deret Kontinyu
Deret ini dibangun dari feldspar plagioklas. Dalam deret kontinyu, mineral awal akan ikut serta dalam pembentukan mineral selanjutnya. Dari bagan, plagioklas yang kaya kalsium akan terbentuk terlebih dahulu, seiring dengan penurunan suhu, plagioklas itu akan bereaksi dengan sisa larutan magma yang pada akhirnya akan membentuk plagioklas yang kaya dengan sodium. Demikian seterusnya hingga plagioklas yang kaya kalsium dan sodium habis dipergunakan. Karena mineral awal akan terus bereaksi, maka sulit ditemukan plagioklas yang kaya kalsium di alam bebas.
  • Deret Diskontinyu
Deret ini dibangun dari mineral ferro-magnesian sillicates. Dalam deret ini, satu mineral ini akan bereaksi menjadi mineral lain pada suhu tertentu dengan melakukan reaksi dengan larutan sisa magma. Bowen menemukan bahwa pada suhu tertentu akan membentuk olivin yang jika diteruskan akan bereaksi dengan sisa larutan magma membentuk pyroxene. Jika pendinginan dilanjutkan, akan terbentuk biotite (sesuai skema). Deret ini berakhir ketika biotite mengkristal, yang berarti semua besi dan magnesium dalam larutan magma telah habis untuk membentuk mineral.

B. Mineral Ikutan/Tambahan

Mineral tambahan adalah mineral-mineral yang terbentuk akibat kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah yang sedikit. Mineral ini tidak menjadi pedoman dalam menentukan nama batuan. Contoh: Zirkon, magnesit, hematit, pirit, rutil apatit, garnet, sphen.

C. Mineral Sekunder

Mineral sekunder merupakan mineral hasil ubahan mineral utama, dari hasil pelapukan, dari reaksi hidrotermal maupun hasil metamorfosisme terhadap mineral utama. Contohnya adalah serpentit, kalsit, serisit, kalkopirit, kaolin, klorit, pirit.

2. Mineral pada Batuan Sedimen

Mineral batuan sedimen dapat berasal dari mineral rombakan dari batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf.Selain mineral rombakan, mineral pembentuk batuan sedimen dapat berasal dari presipitasi kimia secara langsung.
Adapun contoh mineral-mineral rombakan sebagai pembentuk batuan sedimen yaitu quartz, micca, feldspar (asal batuan beku), calcite, dolomite, anhydrite (asal batuan sedimen) dan garnet (asal pecahan dari batuan metamorf). Namun pada batuan sedimen dapat pula satu jenis mineral (mono-mineral) mendominasi batuan karena langsung dari pesipitasi kimiawi. Misalnya Calcite, yang mendominasi pada limestone (batu gamping).

3. Mineral pada Batuan Metamorf

Mineral yang membentuk batuan metamorf adalah mineral asal batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf yang berubah karena proses metamorfosis. Proses metamorfosisme mengubah mineral menjadi kondisi berikut:
  1. Terbentuk mineral baru, dan/atau
  2. Membentuk mineral yang sama namun memiliki sifat yang berbeda karena menyesuaikan kondisi lingkungan yang baru.
Sebagai contoh perubahan pada kondisi pertama yaitu mineral olivine terubah menjadi asbestos, dan mineral homblende membentuk serpentine. Sedangkan perubahan pada kondisi kedua yaitu mineral calcite tetap calcite, dan quartz tetap quartz.

Daftar Pustaka

Sifat-Sifat Fisik Mineral

1. Pengertian Mineral

Mineral adalah suatu zat berbentuk padat yang terbentuk secara alamiah dengan komposisi kimia tertentu yang memiliki atom yang teratur, dan bersifat anorganik. Mineral termasuk dalam komposisi unsur murni dan garam sederhana sampai dengan silikat yang memiliki susunan sangat kompleks dengan ribuan bentuk mineral yang diketahui.

2. Sifat-sifat Fisik Mineral

Penamaan mineral dapat ditentukan dengan membandungkan sifat fisiknya dengan mineral lain. Sifat-sifat fisiknya meliputi: warna, cerat, kilap, kekerasan bentuk kristal, belahan, pecahan, berat jenis, sifat dalam, diaphanety dan special properties.

A. Warna

Warna adalah kemampuan mineral menyerap warna
Warna Contoh
Kuning
Belerang (S)
Emas
Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Emas (Au)
Hijau
Klorit ((MGFe)5Al(AlSiO3O10)(OH)), Malasit (Cu2Co3(OH)2)
Biru
Azurit (2CuCo3 Cu(OH0)2), Beril (B3Al2 (Si6O18))
Merah
Jasper, Hematit (Fe2O3)
Cokelat
Garnet, Limonite (Fe2O3)
Abu-abu
Gelena (PbS)
Hitam
Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit (C), Augit
Putih
Kaolin (Al3O3.2SiO2.2H2O), Gypsu (CaSO4.2H2O)

B. Kilap

Kilap adalah penampakan atau cahaya yang dipantulkan saat mineral terkena cahaya. Secara garis besar, kilap dibedakan dengan:
  1. Kilap logam, Bila mineral tersebut memiliki kilapan seperti logam. Contoh: Gelena, pirit, magnetik, kalkopirit, granit, hematit.
  2. Kilap bukan logam
  • Kilap intan, kilapannya cemerlang seperti intan.
  • Kilap kaca, misalnya kilapan pada kuarsa dan kalsit.
  • Kilap sutera, kilapannya menyerupai sutera. Biasanya terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat seperti asbes, alkanolit, dan gips.
  • Kilap damar, kilapannya menyerupai damar seperti pada sphareit.
  • Kilap mutiara, kilapannya seperti lemak atau sabun, misalnya sepentin, opal, nepelin.
  • Kilap tanah, kilapannya seperti tanah lempung, misalnya kaolin, bauxit dan limonin.

C. Cerat

Cerat adalah warna mineral dalam bentuk serbuk. cerat dapat dilihat dengan menggoreskan mineral kepada suatu bidang porselin yang kasar atau dengan menumbuk mineral tersebut lalu dilihat warna tumbukannya.
Warna ceran lebih khas daripada warna mineral keseluruhan, sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan mineral.

D. Kekerasan

Kekerasan adalah ketahanan mineral tersebut terhadap goresan. Kekerasan mineral secara relatif ditentukan dengan Skala Mohs. Alat uji standarnya:
  1. Talk
  2. Gypsum
  3. Kalsit
  4. Flourit
  5. Apatit
  6. Ortoklas
  7. Kuarsa
  8. Topaz
  9. Korondum
  10. Intan
Mineral yang tidak diketahui kekerasannya dapat juga dibandingkan dengan benda lain yang diketahui skala kekerasannya. Yaitu:
  • Kuku manusia: 2,5
  • Kawat tembaga: 3
  • Paku: 5,5
  • Pecahan kaca dan Pisau baja: 5,5-6
  • Kikir baja: 6,5-7
  • Kuarsa: 7

E. Bentuk Kristal

Mineral ada yang berbentuk kristal mempunyai bentuk teratur yang dikendalikan oleh sistem kristalnya, dan ada pula yang tidak. Mineral yang membentuk kristal disebut Mineral Kristalin. Mineral kristalin sering mempunyai bangunan yang khas disebut Amorf (tidak berbentuk kristal). Bentuk kristal bermacam-macam, antara lain:
  • Isometrik/Kubus: Florit, Octahedron, Pirit, Gelena
  • Tetragonal/Balok: Wilfenit, Apiphilit
  • Heksagonal: Kalsit, Vanadinit, Kuarsa
  • Ortorombik: Topaz, Barit, Staurolit
  • Monoklin: Gypsum, Mika
  • Triklin: Microcline

F. Belahan

Belahan adalah kecenderungan suatu mineral untuk mengalami disintegrasi sepanjang bidang lemahnya. Belahan dapat dibagi menjadi:
  • 1 arah: Mika, Muskovit
  • 2 arah: Ortoklas, amphibole
  • 3 arah: Halit, kalsit
  • 4 arah: Flourit

G. Pecahan

Pecahan adalah kecenderungan suatu mineral mengalami disintegrasi tidak pada titik lemahnya. Pecahan dapat dibagi menjadi:
  • Konkoidal, permukaan halusdan melengkung seperti kenampakan kerang atau pecahan botol. Contoh: Kuarsa
  • Splintery, permukaan seperti serat atau abon. Contoh: Asbes dan augit
  • Even, bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan halus. Contoh: Pada kelompok mineral lempung
  • Uneven, permukaan kasar dan tidak teratur. Contoh: Pirit, kalkopirit
  • Hackly, permukaan kasar, tidak teratur dan runcing. Contoh: Emas

H. Berat Jenis

Berat jenis adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara yang umum untuk menentukan berat jenis adalah dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu, misalnya beratnya X gram. kemudian mineral ditimbang kembali dalam keadaan didalam air, misalnya Y gram. Berat terhitung dalam keadaan didalam air adalah berat mineral dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut. Contoh: Gelena (SG: 7,5), perak (SG: 10-12).

I. Sifat Dalam

Sifat dalam adalah kemampuan suatu mineral untuk pecah. Tenacity ini dapat dibagi menjadi:
  • Brittle, bisa dipotong dan hancur menjadi pecahan runcing. Contoh: Kuarsa
  • Malleable, dapat ditempa menjadi lapisan pipih dan tanpa pecah. Contoh: Emas
  • Sectile, dapat dipotong dengan pisau menjadi keping-keping tipis. Contoh: Gipsum
  • Flexible, dapat dibentuk tapi tidak bisa dikembalikan kembali jika gaya ditiadakan. Contoh: Talc, selenit
  • Elastic, dapat dibentuk dan dapat dikembalikan kembali seperti semula. Contoh: Muskovit

J. Diaphanity

Diaphanety adalah kemampuan mineral untuk meneruskan cahaya. Diaphanety dapat dibagi menjadi:
  • Trasparent, benda dapat tampak bila dipandang melalui suatu mineral. Contoh: Kuarsa, kalsit, biotit
  • Translucent, cahaya dapat diteruskan oleh mineral, namun benda dibalik mineral tidak tampak jelas. Contoh: Gipsum
  • Opaque, tidak ada cahaya yang diteruskan walaupun pada keping tertipis. Contoh: Magnetik, pirit

K. Special Properties

Special Peoperties Mineral
Rasa
Asin Halit
Pahit Epsomit
Feel
Soapy / Seperti sabun Talk, Bentonit
Greasy / Berminyak Grafit
Bau
Bawang putih Mineral As
Lobak Mineral-mineral Se
Belerang S
Arang Batubara, Lignit
Tanah Kaolin basah
Kelistrikan
Bermuatan listrik jika digosok dengan kain Intan, Topaz, Turmalin
Bermuatan listrik jika dipanasi Turmalin, Kuarsa
Bermuatan listrik jika ditekan Kuarsa
Berdaya hantar listrik Cu, Fe
Kemagnetan
Bersifat magnetik Magnetit, Pirotit, Ferroplantin
Serbuknya tertarik magnet Magnetit, Pirotit
Daya hantar panas
Konduktor Cu, Fe
Isolator Asbes, Mika
Keradioaktifan
Mineral bersifat radioaktif Uranitit, Pitchblende
Fesforisensi
Dapat bercahaya/bersinar setelah terkena sinar matahari Barium sulfida, Kalsium sulfida
Fluorisensi
Dapat bercahaya bila mineral terkena cahaya Fluorit, Barium, Willemite

Daftar Pustaka

Alat-Alat Survey dan Fungsinya

1. Pengertian Survey dan Pengukuran

Survey atau surveying didefinisikan sebagai pengumpulan data yang berhubungan dengan pengukuran permukaan bumi dan digambarkan melalui peta atau digital. Sedangkan pengukuran didefinisakan peralatan dan metode yang berhubungan dengan kelangsungan survey tersebut. jadi, surveying adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengumpulan data. Mulai dari pengukuran permukaan bumi hingga penggambaran bentuk bumi. Sedangkan pengukuran adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan alat mulai dari pita ukur hingga pengukuran jarak dengan metode elektro magnetik.
Survey umumnya dilakukan pada bidang datar, yaitu dengan tidak memperhitungkan kelengkungan bumi. Dalam proyek surveying, kelengkungan buminya kecil, jadi pengaruhnya dapat diabaikan, dengan menggunakan perhitungan yang rumusnya disederhanakan. Sedangkan pada proyek yang memiliki jarak jauh, kelengkungan bumi tidak dapat diabaikan, karena keadaan ini termasuk surveying geodesi.

2. Macam-macam Alat Survey dan Pengukuran

A. Peta Topografi
Peta Topografi

a). Pengertian

Peta topografi adalah peta dengan skala tinggi dan detail, dan biasanya menggunakan garis-garis kontur dalam peta modern.

b). Kegunaan

Peta topografi digunakan untuk informasi tentang keadaan, lokasi, jarak, rute perjalanan dan komunikasi. Peta topografi juga menampilkan variasi daerah, tingkat tutupan vegetasi dan perbedaan ketinggian kontur.

B. Kompas Geologi
Kompas Geologi

a). Pengertian

Kompas merupakan alat navigasi penunjuk arah sesuai dengan magnetik bumi secara akurat.

b). Kegunaan

Kompas geologi memiliki banyak kegunaan, diantaranya digunakan untuk mengukur kedudukan suatu unsur struktur geologi, mengukur strike/dip dari kemiringan lapisan batuan, dan tentunya sebagai penunjuk arah.

c). Cara Penggunaan

Dari beberapa sumber, cara menggunakan kompas geologi dilihat dari bagian-bagian utama kompas tersebut. Diantaranya:
  • Jarum Kompas
Jarum kompas selalu menunjuk ke arah kutub utara magnet bumi. Oleh karena itu terjadi penyimpangan dengan kutub utara geografi yang biasa disebut deklinasi. Biasanya deklinasi memiliki besaran yang berbeda disetiap tempat. Agar kompas sesuai dengan kutub utara geografi, maka "graduated circle" harusdiputar.
  • Lingkaran Pembagian Derajat
Ada 2 jenis pembagian derajat dalam kompas ini,
  1. Kompas azimut dengan pembagian derajat muali dari 0 derajat di arah utara sampai 360 derajat berlawanan dengan arah jarum jam.
  2. Kompas kwardan memiliki pembagian derajat dari 0 derajat pada utara dan selatan, lalu 90 derajat pada timur dan barat
  • Klinometer
Bagian kompas yang berfungsi mengukur kemiringan suatu lereng. terletak didasar kompas dan biasanya dilengkapi dengan gelembung pengukur horizontal dan skala.

C. Palu Geologi

a). Pengertian

Palu adalah benda yang digunakan untuk memberikan tumbukan pada benda lain. Ada 2 jenis palu yang digunakan dalam survey, yaitu palu geologi sedimen (palu geosedimen) dan palu batuan beku.

b). Kegunaan

  • Palu Geosedimen
    Palu geosedimen, palu geologi
Sesuai namanya, palu ini digunakan untuk batuan sedimen (berlapis). Hal ini dapat dilihat dari bentuknya yang persegi berguna untuk memecahkan bagian "sampling".
  • Palu Batuan Beku
    Palu batuan beku, palu geologi
Palu ini digunakan untuk batuan neku yang umumnya keras. Ujungnya yang lancip dibuat agar ketika menggunakannya, kekuatan tumbukan terpusat pada ujungnya yang runcing tersebut untuk memecahkan batuan-batuan beku dan mengambil bebatuan yang ingin diamati.

D. LUP
LUP

a). Pengertian

LUP adalah sebuah lensa cembung yang memiliki titik fokus dekat lensanya. Benda yang diamati akan tampak besar karena berada pada titik fokus lup. Bayangan yang dihasilkan bersifat tegak, nyata dan diperbesar.

b). Kegunaan

LUP digunakan untuk mengamati suatu mineral atau fosil kecil, sehingga dibutuhkan lup untuk mengamatinya. Biasanya perbesaran yang dipakai berkisar antara 8 sampai 20.

E. Pita/Tali Ukur
Pita Ukur

a). Kegunaan

Pita atau tali ukur biasanya digunakan untuk mengukur panjang lintasan atau ketebalan suatu lapisan. Pita ini biasanya berbentuk roll agar mudah dibawa

F. Kantong Contoh Batuan
Kantong Contoh Batuan

a). Kegunaan

Kantong contoh batuan atau bisa juga menggunakan kantong plastik digunakan untuk membungkus batuan yang didapat dalam kegiatan survey ini. Contoh batuan setelah dimasukkan kedalam kantong, lalu diberi label agar mudah saat dibedakan. Jika tidak ada kertas label, bisa juga menggunakan spidol permanen.

G. GPS
GPS

a). Pengertian

Global Positioning System atau yang biasa disebut GPS adalah suatu sistem untuk menentukan kordinat letak di permukaan bumi dengan bantuan dari satelit. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan gelombang mikro ke bumi, lalu diterima oleh GPS yang ada dibumi.

b). Kegunaan

GPS digunakan untuk menentukan kordinat posisi, kecepatan, arah dan waktu saat survey. GPS juga berguna untuk mengetahui medan lokasi agar kita tidak tersesat.
Jangan lupa membawa batre cadangan ya, bisa berabe kalau tiba-tiba GPS mati ditengah hutan.

H. Larutan HCl
Larutan HCl

a). Pengertian

Asam klorida atau HCl adalah larutan aquatik dari gas hidrogen klorida. Asam klorida termasuk asam kuat yang berbahaya jika diminum, terhirup jika berbentuk gas, dan terkena mata.

b). Kegunaan

Larutan HCL digunakan untuk menguji kadar karbonat dalam batuan, sorting dan determinasi batuan-batuan.
Hati-hati menggunakan larutan ini ya ^^

I. Buku Catatan dan Alat Tulis
Buku catatan

a). Kegunaan

Buku dan alat tulis ini digunakan untuk mencatat semua hasil dari survey yang dilakukan. Mulai dari hasil data ukur, sketsa, deskripsi, letak singkapan dan lain-lain yang perlu dicatat.

J. Kamera
KameraKamera

a). Kegunaan

Kamera digunakan untuk mempublikasikan hasil kegiatan lapangan yang dilakukan, mulai dari lokasi kegiatan, singkapan-singkapan atau bisa juga untuk narsis. Hehehe
Oia, jangan lupa juga bawa baterai cadangan ya ^^

K. Tas Lapangan
Ransel, tas lapangan, backpacker

a). Kegunaan

Tas ini merupakan alat vital yang sangat penting jika ingin melakukan survey. Karena tas ini berguna untuk menaruh semua perlengkapan-perlengkapan yang sudah disebutkan tadi. Tas yang dibawa harus memiliki kapasitas yang cukup besar karena nanti pasti membawa hasil yang dilakukan saat survey.
Kebayang kalau ga bawa tas, pasti ribet dah itu.

Sumber

Kelompok Keilmuan Surveying dan Kadaster

- Copyright © 2013 Sarang Kunti - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited by Sarang Kunti -

DMCA.com Protection Status